Minggu, 04 Oktober 2009

apakah cuma diam?

APAKAH CUMA DIAM?

Dari 1 juta barel minyak yang diproduksi negeri ini Cuma 150.000 yang diproduksi oleh tangan anak bangsa ini??? Busyet gak salah dengar tuh.. apakah dengan penduduk hampir 250 juta tidak ada yang bisa mengambil 750 ribu lagi dari perut ibu kita sendiri?. Negara ini betul betul terpuruk, entah dengan siapa lagi kita harus mempersalahkan, kita punya kemampuan, kita punya kekuatan, apa sih lebihnya Negara lain yang dengan semena mena membuat Negara di dalam Negara kita, sampai pernah ada wc dengan tulisan expatriate only!!, apa bedanya kita dengan masa penjajahan dahulu, tetapi dulu malah lebih jelas, toh kita dijajah wajar aja kita miskin, dengan susah payah kakek nenek kita merebutnya tapi dimana tanggung jawab kita sebagai ahli waris, tetapi sekarang kita mengakunya merdeka tapi kita masih saja seperti pendahulu kita melihat kekayaan Negara kita digarong oleh bangsa lain, yang malah difasilitasi oleh bangsa kita sendiri.

Apa yang bisa kita lakukan, ??? tidak selamanya kita mengeluh dengan keadaan ayo bangkit lakukan apa yang kita bisa, seorang dokter haruslah bisa menjadi dokter yang baik, untuk mensejahterakan kesehatan rakyatnya bukan Cuma uang di pikirannya, seorang polisi haruslah menjadi polisi yang tegas, jujur, adil, disiplin. seorang petani jadilah petani yang mandiri jangan menyerah dengan keadaan. Seorang wakil rakyat. Jangan dinas luar melulu… pikirkan kesusahan rakyat bila perlu hiduplah lebih miskin dari rakyat biar tahu rasanya antri minyak tanah. Seseorang yang miskin sekalipun, jangan menyerah kalian tetap saudara kami, paling tidak milikilah pengharapan untuk mndapatkan hidup yang lebih baik, dengan harapan kita memiliki kemauan, dimana ada kemauan pasti ada jalannya. Kita pasti memiliki potensi, sadari..kembangkan..pergunakan dengan sebaiknya untuk republik ini.

Selasa, 07 Juli 2009

catatan saat "return"

Catatan Saat Return
Tidak terasa sudah hampir 10 bulan semenjak mengisi catatan terakahir, sekarang lagi sibuk mempersiapkan diri utuk masuk bagian, siap mental..finansial.. dan lain lain, kelahiran anak pertama kami membuat saya harus berfikir keras bagaimana caranya agar anak kami dapat survive di kehidupan sekarang, muncullah suatu tekad yang kadang kadang orang lain bilang nekad. Saya harus menjadi lebih baik, lebih secara status, lebih secara finansial. Alhamdulillah sekarang sudah ada jalannya, tinggal bagaimana caranya agar semua berjalan lancar.
Kata orang kalau tidak ada masalah berarti tidak hidup,.. bicara tentang masalah mungkin menjadi makanan sehari-hari dalam pekerjaan saya di perusahaan ini, mulai dari tantangan kerja, yang sepertinya memposisikan dokter sebagai profesi yang ”lonely job”, lo kok lonely job...? diperusahaan saya berperan sebagai dokter yang diharuskan untuk membina pelayanan kesehatan yang baik, ”berkelas” itu misi utamanya,
tantangannya saya harus menghadapi bos-bos yang pelit, mengeluarkan uang, maunya karyawan jangan sampai sakit, maunya karyawan jangan sampai dirujuk, maunya karyawan tidak dirawat, tapi ...tidak mau keluar uang untuk preventiv maintenance, tidak mau menjalankan program, tidak mau menata perumahan, tidak mau melengkapi sdm klinik, tidak mau transparan mengenai budget... ini bagaimana..? dokter bukannya dewa yang bisa semuanya berjalan sendiri dengan fasilitas pribadi.
Tantangan kedua dari karyawan yang merasa saya adalah ”antek” perusahaan yang mempersulit kehidupan mereka, mengurangi kesejahteraan mereka, karena dengan terpaksa saya harus tidak mau merujuk, tidak mau mengeluarkan surat istirahat ( walaupun ada ada aja alasan karyawan), memotong klaim perobatan luar ( kan udah disiapin klinik?), sehingga banyak timbul masalah kecil yang dipelintir menjadi besar dan menjadi masalah yang akhirnya sampai ke bos, bos marah ke saya ( ndak sadar apa masalah awal kan dari sampeyan...?). jadi betul kan ”lonely job” ...?
Saya rasa sehebat apapun dokter yang ada di sini mengalami masalah yang sama,menjadi tameng manajemen dan ”tidak dihormati” oleh karyawan. Menurut saya kalau perobatan gratis akan berdampak dengan image pelayan kesehatan di perusahaan, sifat karyawan yang selalu tidak puas dengan menganggap berobat di klinik obatnya murah jadi kualitasnya jelek, itu karena mereka tidak tahu harga yang dibayarkan untuk sekali berobat di klinik berapa, heran kok pelayanan klinik dibilang kalah dengan bidan yang jelas-jelas menggunakan obat generik diabanding klinik yang menggunakan obat paten. Sepertinya bila berobat dengan mengeluarkan uang adalah gengsi yang dibayarkan sehingga, bila telah membayar berarti mendapatkan perobatan yang baik, saran saya sih kalau memang seperti itu, bubarkan saja klinik dan berobat di pelayanan umum yang membayar, saya yakin karyawan akan puas.
Tapi ya itulah tantangan dan seninya... saya berusaha menikmatinya dan berusaha untuk terus memperbaiki, sampai saatnya saya sudah tidak sanggup, dan akhirnya hijrah…hehehe. Ada ide yang mungkin konstruktif agar pelayanan berjalan dengan baik, dan karyawan merasa tidak perismistis dengan bantuan kesehatan yang diberikan perusahaan yaitu :
komitmen manajemen,
komitmen manajemen sejauh mana dalam pemberian bantuan kesehatan terhadap karyawan, harus jujur dan tersosialisasi dengan baik mulai dari top manajemen sampai ke karyawan paling bawah, sehingga muncul bahasa yang sama tentang bantuan kesehatan, mana yang perusahaan beri dan mana yang perusahaan tidak beri dan konsisten dalam pelaksanaannya disertai sistem reward dan punishment
libatkan semua lini
dalam pembuatan bantuan kesehatan terhadap karyawan libatkanlah semua lini yang mengerti, mulai dari dokter yang memberi masukan mengenai prosedur medis, finance mengenai masalah pembiayaan, hrd mengenai masalah sumberdaya, legal mengenai maslah hukum, teknis mengnai transportasi dan fasilitas, top manajemen, pimpinan unit sampai karyawan, berembuklah disitu walupun nanti keputusannya tetap di top manajemen saya kira kalau ada masukan yang banyak akan bijak mereka menentukan bagaimana bantuan kesehatan yang harus dijalankan
buat departemen mandiri yang bertanggung jawab
seharusnya dibuat sebuah departemen medical yang kuat, kuat dalam artian memiliki budget sendiri , memiliki kekuatan sdm yang cukup, sehingga tidak dianggap menggerogoti ” cost” unit, dengan adanya independensi ini, medical departemen dapat membuat programnya sendiri based on budget dan peranan unit hanya sebagai user dan tidak mengintervensi cukup dengan komplain untuk perbaikan bila tidak puas, yang berhak mengintervensi adalah top manajemen, dan perlu diingat budget medical jangan dianggap sebagai pos rugi karena tujuannya adalah kesehatan, kesehatan adalah suatu indikator yang tidak bisa dihitung dengan rupiah, bila dicoba dihitung dengan rupiah akan muncul snow ball effect, ujung ujungnya basti besar jumlah manfaatnya,
salah satu program yang dijalankan based on budget, mulai dari program preventif, kuratif, rehabilitatif dan program penunjang lainnya mungkin menempatkan liason officer di tiap rumah sakit sehingga pelayanan tidak tersendat, menyiapkan shelter untuk karyawan yang berobat di rs luar namun harus menginap, jadi semua program akan ter conduct dengan baik.
bila tidak mampu serahkan ke pihak ketiga.
Ini adalah opsi yang terakhir dan cukup mahal dan akan menyulitkan bagi karyawan yang berlokasi kerja di remote area, seperti yang diketahui pembayaran premi dihitung berdasarkan kepala bukan berdasarkan orang sakit, namun kenapa harus menggunakan opsi ini bila 3 opsi diatas mampu dilakukan dengan biaya yang lebih murah dan perusahaan memiliki nilai tambah karena menganggap kesehatan karyawan adalah penting dan sebuah aset yang tak terhingga
Itu adalah ide umum namun berdasarkan pengalaman saya dilapangan tidaklah sulit untuk diterapkan.
Sering setiap akhir bulan saya harus dipanggil pimpinan yang mempertanyakan mengapa biaya perobatan di rumah sakit (padahal rumah sakit umum daerah )mahal, pertanyaan saya pada waktu itu adalah, berapa rupiah yang dibilang mahal dan berapa rupiah yang dibilang murah ? berapa budget saya?, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pamungkas dan biasanya mereka tidak bisa jawab. Karena selama ini saya selaku dokter tidak dimintakan pendapat mengenai budget perobatan itu sendiri. Bila pada akhirnya saya menentukan budget perobatan maka apabila saya dipertanyakan mengenai mahalnya cost perobatan saya pasti bisa jawab. Bila budget tidak transparan biaya rawat inap 100.000 rupiah pun pasti akan dibilang mahal. Kadang tidak saya pungkiri di pelayanan tingkat lanjut sendiri bila menjumpai pasien perusahaan yang non asuransi (reimburst), obat-obatan yang digunakan adalah obat kelas satu, tapi saya tidak menyalahkannya dianggap perusahaan mampu untuk itu, dan tidak ada pembatasan obat yang diberikan, bila budget secara transparan diberikan, dan departemen medikal mandiri (seperti point 3 diatas) kami bisa membuat tindakan yang fair dari segi karyawan dan perusahaan, misalnya membuat list obat-obatan yang sesuai dengan kemampuan perusahaan, mengaktifkan fungsi verifikasi di rsud yang di bawah kendali perusahaan dan merekrut sumber daya yang diperlukan. Memang semua butuh biaya tapi biaya yang muncul hanya di depan, dan manfaat dibelakangnya sangat besar. Apalagi akan menepis sikap curiga manajemen terhadap rumah sakit.
Ada sikap salah satu pimpinan disini yang membuat pernyataan ” we are pure business, we are not welfare departement, we already pay for their health”. Suatu pernyataan yang sangat salah. Dan merupakan blunder. Jaminan kesehatan adalah komponen yang penting dan diwajibkan serta diatur undang undang. Jaminan kesehatan adalah suatu system yang sama pentingnya dengan workshop alat –alat, tanpa kesehatan karyawan proses tidak dapat berjalan. Cost kesehatan adalah cost maintenance yang tidak boleh atau “salah besar” dibilang pos rugi. Kesehatan sebetulnya bukanlah cost, melainkan suatu investasi, yang berkaitan langsung dengan jam kerja, lost time, produktifitas karyawan, ataupun secara tidak langsung dengan ketenangan bekerja, perasaan bangga bekerja di perusahaan, dll
Pekerja tidaklah dibayar untuk kesehatannya melainkan dibayar untuk kerjanya kontribusinya, pemikirnnya dan lain lain, maka dari itu muncul peraturan bahwa penyakit akibat kerja merupakan komponen yang harus dibayar. Bisnis boleh berjalan, namun bisnis yang beretika. Malaysia sebagai Negara asia yang dibilang Negara yang beradap, beretika dalam berkerja, dikalahkan oleh perusahaan eropa yang menjunjung tinggi kesehatan karyawan sebagai invetasi. Terakhir yang saya katakana disini.. tidak ada ruginya membayar kesehatan karyawan, toh tidak akan membuat perusahaan pailit, tidak pernah saya dengar perusahaan bangkrut karena pelayanan kesehatan karyawannya.